Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Wednesday, August 21, 2013

H.P. Lovecraft, Guru Para Sineas Film Horor

Jika, Anda sudah khatam membaca buku-buku horor novelis Stephen King, menyaksikan film "Prometheus" atau "Alien", atau mendengar tentang fiksi Arkham Asylum di film "Batman", ucapkan terima kasih kepada H.P. Lovecraft. Ya, penulis buku horor yang karya-karya masyur awal abad 20, kini menjadi inspirasi bagi orang lain sekurun waktu satu abad. Tak cuma sesama penulis, melainkan juga para pembuat film horor.

Lovecraft memang jenius horor, yang pandai meramu cerita horor. Di mana, semua itu tertuang dalam karya-karyanya seperti "The Call of Cthulhu", "The Case of Charles Dexter Ward" dan "At the Mountains of Madness". Karya-karya itu sedemikian populer, sehingga menginspirasi dan munngkin lebih dikenal ketimbang penulisnya sendiri.

H.P. Lovecraft, Guru Para Sineas Film Horor
Credit: PikiranRakyat.com

Tak mengherankan, para fans Lovecraft hendak menganugerahkan penghargaan terhadapnya. Bulan Agustus ini adalah saat yang tepat untuk itu - merayakan karya dan pengaruh terbesarnya. Untuk itu bakal digelar konvensi bertajuk "NecronomiCon" yang berlangsung selama 22-25 Agustuss di Providence. Tempat sang penulis hidup dan wafat di usia 46 tahun pada 1937.

Howard Phillips Lovecraft lahir pada 1890. Kedua orang tuanya meninggal di sebuah rumah sakit jiwa, saat Lovecraft menginjak umur 8 tahun, menurut ST Joshi, yang menulis biografi Lovecraft dan menyunting beberapa koleksi karyanya. Dia hanya tiga tahun mengenyam sekolah menengah atas, keluar karena gangguan saraf, menurut Joshi seperti dikutip Daily Mail, Selasa (20/8/2013).

Selain pernikahan singkatnya yang tidak bahagia yang membawanya ke New York pada 1924-1926, Lovecraft sebagian besar hidupnya tinggal di East Side, Providence dekat dengan Universitas Brown. Dia menulis karya yang paling signifikan setelah kembali ke Providence, dan menerbitkan banyak cerita di majalah Weird Tales.[]
Read more

Monday, September 3, 2012

Ashley Dawn Loggins, Dari Gelandangan Menuju Harvard

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Jutaan orang mengejar impian agar bisa kuliah di salah satu universitas terbaik dunia, Universitas Harvard. Sayangnya, tidak semua orang berhasil memperoleh kesempatan itu. Ashley Dawn Loggins, seorang gadis miskin dan tunawisma berhasil mendapatkan beasiswa di universitas bergengsi tersebut. Inilah kisah yang bisa menjadi inspirasi kita semua.

Ashley Dawn Loggins, Dari Gelandangan Menuju Harvard

Ditinggal Orang Tua Sejak Kecil

Ashley Dawn Loggins tahun ini berusia 18 tahun. Namanya terkenal sejak dia diberitakan diterima sebagai mahasiswi Harvard untuk tahun pendidikan 2016. Masa kecil gadis berkacamata ini sangat memprihatinkan. Ashley kecil mendapat penolakan dari orang tuanya yang merupakan pecandu narkoba, dia sering mendapat perlakuan kasar dan tinggal di lingkungan tak sehat yang dipenuhi pengguna narkoba. "Saya melihat keluarga saya hidup dari satu tagihan (hutang) ke tagihan yang lain," ujar Ashley dikutip dari Dailymail. Hingga akhirnya, kedua orang tua meninggalkan Ashley begitu saja.

Kemudian Ashley tinggal bersama nenek yang menyayanginya. Walau begitu, kehidupan Ashley tetap miskin dan tidak diajarkan pentingnya kebersihan. Saat sekolah, Ashley jarang sekali mandi. Dia dan kakak laki-lakinya harus berjalan jauh ke taman kota membawa ember untuk mendapatkan air gratis. Gadis ini harus memakai pakaian yang sama setiap hari selama berbulan-bulan. Sehingga tidak heran jika teman-temannya sering mengejek Ashley dengan panggilan jelek atau bodoh. Jika sudah begitu Ashley akan pulang sekolah sambil menangis setiap hari.

Dari Gelandangan Menuju Harvard

Ashley Dawn Loggins, Dari Gelandangan Menuju Harvard

Saat SMA, penasihat sekolah, Robyn Putnam memberi jalan yang membawa perubahan bagi Ashley. Selain diberi pakaian, penasihat sekolah tersebut menyarankan agar Ashley mengejar ketinggalan pelajaran sekolah secara online. Agar bisa membiayai keperluan hidup sehari-hari, Mr Putman memberi Ashley pekerjaan sebagai petugas kebersihan sekolah dan diizinkan tinggal di sekolah. Ashley harus memastikan kelas, toilet dan semua ruangan sekolah bersih sebelum pelajaran dimulai.

Walaupun awalnya berat dan merasa malu, Ashley segera beradaptasi. Dengan penghasilan dan kehidupan yang lebih baik, Ashley bisa terus berprestasi, semua nilai ujiannya selalu A.  Tidak ada yang sia-sia dari sebuah kerja keras. Pada akhir masa SMA, Ashley mendaftarkan diri di empat universitas dan semua menerimanya, termasuk Universitas Harvard. Ashley akan mendapat beasiswa penuh dan tempat tinggal selama kuliah, tetapi perjuangannya masih belum selesai karena dia harus membeli sendiri berbagai buku dan keperluan sehari-hari.

Ingin Membantu Orang Lain

Ashley Dawn Loggins, Dari Gelandangan Menuju Harvard

"Rasanya luar biasa karena saya telah menyelesaikan semua ini dengan kerja keras dan bisa mencapainya," ujar Ashley sambil menangis bahagia dalam wawancara bersama CNN. Gadis ini tidak lupa berterima kasih pada semua orang yang telah membantunya. Ashley juga tidak lupa untuk berbagi pada anak-anak lain yang bernasib sama atau lebih buruk darinya untuk mendapat pendidikan. Dia memiliki rencana untuk mendirikan sebuah yayasan non laba untuk saling membantu. "Satu-satunya cara untuk keluar dari kemiskinan adalah pendidikan," ujarnya.

Selama setiap orang memiliki impian, mereka pasti bisa mewujudkannya. Tidak alasan untuk tidak mewujudkan impian. Semua itu tergantung pada Anda, bukan pada orang lain, demikian pesan Ashley.

Sumber: Vemale.com
Read more

Inspirasi: Pelajaran Jujur dari Juru Parkir

Siang itu cukup terik. Aku dan beberapa teman kantor tengah makan siang di salah satu resto yang cukup terkenal di bilangan Jakarta Selatan. Hal yang biasa kami lakukan ketika jenuh dengan pekerjaan adalah mencari tempat istirahat makan siang yang jauh dari kantor. Alasannya, jika terkena macet, kemungkinan lebih lama di jalanan pun pasti didapat. Jadi, waktu untuk kembali bekerja pun otomatis berkurang.

tukang parkir yang jujur

Seperti biasa, saat makan siang pun berjalan lancar. Artinya, kami benar-benar refreshing dengan aneka guyonan yang terlontar. Benar-benar lupa dengan kerjaan di kantor. Singkat cerita, selepas makan siang, kami langsung beranjak dan berencana balik ke kantor. Namun, saat hendak membayar parkir mobil, aku dikejutkan dengan teguran dari tukang parkir.

Saat itu, tukang parkir menyerahkan uang lima puluh ribuan padaku seraya berujar,

"Mbak, tadi uangnya jatuh pas mbaknya turun dari mobil. Tadi mau dipanggil, mbak udah keburu masuk."

Ini Jakarta dan masih ada orang jujur seperti tukang parkir tersebut? Masyallah. Seketika aku ingat dengan sejumlah gaji yang kuterima setiap bulannya. Kemana perginya uang-uang itu? Bagaimana dengan gaji tukang parkir yang tidak seberapa? Mengapa ia masih jujur? Sedangkan aku, korupsi waktu hanya karena bosan dengan rutinitas kantor.

Saat itu, aku hanya bisa melongo mendapati tukang parkir yang tersenyum seraya menyerahkan uang padaku. Dengan gelengan pelan seraya tersenyum, aku menjawab bahwa uang itu adalah haknya, untuknya. Dan, tak lupa, aku mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang diberikan.

---

Bagaimanapun, jujur adalah kunci hidup. Dengan hidup jujur, maka Tuhan akan mengantarkanmu pada segala kebaikan.

Sumber: Vemale.com
Read more