Wednesday, November 7, 2012

Cerpen Horor: Kisah Samantha Loner

Samantha Loner. Sendiri, sesepi namanya. Sehening hidupnya.


Loner Street terletak di bawah bayang-bayang gedung-gedung perkantoran kota New York. Seperti sebuah lorong yang tidak pernah hidup. Seperti sebuah tempat pemakaman. Keberadaannya seperti sebuah misteri, disembunyikan dan tidak ada pernah di peta kota. Orang-orang tertentu menyebutnya sebagai lorong tikus, lorong kecoa atau sejenisnya. Petinggi kota tidak pernah membicarakannya. Mendengarkan namanya saja membuat mereka ingin muntah. Tetapi, untuk sebuah kebenaran maka kisah Samantha Loner harus kuceritakan.

***

Samantha Loner tinggal di salah satu apartemen di Loner Street dengan Linda, ibunya, wanita yang telah meninggalkan luka di wajah dan tubuhnya. Dan kalau bisa kugambarkan lebih detail lagi, dialah wanita yang membuat pelipis matanya perih. Wanita yang pernah memukulnya hingga gigi gerahamnya tanggal. Wanita yang mematahkan jari tengah tangan kanannya. Wanita yang pernah mendorongnya jatuh dari tangga. Wanita yang meninggalkannya di kamar pengap sejak pertama kali ia hadir di dunia dan kembali lagi sekedar memberi susu (yang lebih banyak air daripada susunya). Well, Kalau itu belum cukup membuatmu merasa iba padanya, aku akan mengatakan penderitaannya lebih jauh. Namun kau jangan terlalu membencinya karena kasih sayangnya melebihi kekejamannya, begitulah yang Samantha Loner katakan.

Ia lahir menjelang tengah malam dibantu tetangganya, seorang wanita berumur empat puluh tahun yang lebih terlihat seperti berusia enam puluh tahun. Wanita ini yang mengurusnya kemudian dan memberinya nama sementara Linda menyumpah-nyumpah kesetanan karena masih merasakan sakit luar biasa. Samantha, begitulah Linda memberikan nama seperti nama yang ia inginkan jika mempunyai seorang putri. Sedangkan Loner sebagaimana kautahu diambil dari nama jalan. Tapi dengan cara ini Linda memanggilnya. “Bayi sialan! Berhentilah menangis!”

Wanita baik itu bernama Nyonya Lourie. Panggilan nyonya bukan karena ia telah menikah tetapi ia senang dengan gelar itu. Ia yang diam-diam merawat Samantha ketika Linda pergi, mengajarkannya membaca, menghitung, menulis dan memberinya sebuah buku berjudul In Cold Blood di ulang tahun Samantha yang kelima (Samantha Loner bisa membaca sejak usia empat tahun). Samantha membacanya berulang-ulang, menjaganya agar jangan sampai rusak. Dari buku itu ia mengenal rangkaian kalimat, bermain-main dengan kata-kata dan menulisnya di tembok di balik lemari. Ia membuat puisi dan haiku yang kesemuanya menceritakan tentang manusia yang paling dicintainya: ibunya. Tetapi ia tidak ingin coret-coretannya terbaca Linda atau jika tidak maka ia akan mendapat hukuman. Ny. Lourie bahagia menjaganya seperti memiliki anak sendiri. Ia selalu mengatakan pada Samantha bahwa Linda mencintainya lebih dari apapun dan jangan sekali-sekali mengecewakannya. Ny. Lourie meninggal di kamarnya sendiri ketika usia Samantha delapan tahun. Jack menyuruh anak buahnya melempar mayat Ny. Lourie ke tempat sampah melalui jendela di lantai tiga. Samantha pernah bertanya pada ibunya kemana Ny. Lourie pergi. Linda bilang padanya bahwa Jack telah mengusir Ny. Lourie dan kini Jack yang menempati kamarnya.

Samantha berusia tujuh tahun saat melihat Linda bergelut telanjang bulat dengan Jack di lantai. Ia mencoba mengerti. Ia baru mengerti setelah Jack dan Linda menyelesaikannya penuh keringat, dan ketika Jack melemparkan lembaran uang pada ibunya. Ia berpikir dengan cara itulah Linda mendapatkan uang. Mungkin Jack adalah bos ibunya sehingga ia harus hormat padanya. Tapi rasa hormat itu segera hilang setelah Jack menariknya, melemparnya ke sofa dan menciumi lehernya. Jack akan melakukan seperti yang dia lakukan pada Linda. Mungkin ia akan mendapatkan uang. Tapi ia terlalu kecil untuk dihujani dorongan-dorongan keras Jack. Ia menggulingkan tubuhnya hingga jatuh ke lantai kemudian bangkit dan berlari keluar kamar lalu berdiri sembunyi di balik dinding. Jack datang memburunya, mengejutkannya dan membekap mulutnya. Mungkin Samantha hanya seorang anak kecil, tetapi ia tidak menangis. Ia tahu mengalahkan rasa takutnya. Ia menggigit lengan Jack hingga Jack berteriak kesakitan, memaksa Jack perlu menendangnya hingga terjungkal di tangga, membuat tulang kering kakinya retak dan bengkak dan sejak saat itu Linda memanggilnya si pincang.

Samantha tidak pernah berada keluar gedung. Hidupnya sempit, jendela kamarnya pun berhadap-hadapan dengan tembok. Ia bisa merasakan air hujan yang turun melalui sela-selanya. Terkadang ia menduga-duga pemandangan luar dari majalah yang pernah Ny. Lourie berikan. Ia memimpikan kehidupan di dunia luar, melihat bentuk mobil yang sebenarnya, warna-warni kota dan hiruk pikuk jalanan.

“Katakan padaku tentang dunia luar” ia berkata pada seekor merpati yang bertengger di sudut jendelanya. Burung merpati itu hanya menggeleng kepalanya, membuat Samantha tersenyum. “Kamu lucu.” Burung merpati itu terbang tinggi. Samantha memandanginya hingga hilang di balik gedung.

Hujan bertambah deras, angin menerbangkan kertas-kertas, menggoyang tirai, uap embun menutupi kaca jendela. Samantha menggambar dirinya di kaca dengan jarinya, lalu menghapusnya hingga ia bisa melihat jelas seekor musang berlari di atas kabel. Di Bawah gedung, anjing-anjing Loner Street berteduh di bawah tempat sampah sedangkan Loner Street sendiri hampir kebanjiran.

***

Samantha tidak menangis. Ia tidak pernah menangis untuk orang lain kecuali untuk Linda ketika wanita itu sakit. Linda sekarat, nafasnya sesak megap-megap, batuknya seperti mengeringkan paru-parunya sementara Samantha hanya bisa memandang sedih.

Samantha tahu kata dokter, obat, kesembuhan dan uang mempunyai hubungan. Tapi ia juga kehabisan makanan. Satu-satunya cara mendapatkan semuanya adalah keluar dari apartemennya. O, jika ia bisa memilih antara kesehatan ibunya dan keinginannya melihat dunia luar maka ia akan memilih ibunya menjadi sehat. Tapi ia tidak punya pilihan.
Ketika pertama kali meninggalkan apartemen kumuhnya, ketika melangkah menuju ruang cahaya di ujung lorong, ia seperti tidak akan pernah berhenti menutup mata. Menatap langit yang redup, parade orang-orang berjalan cepat, mobil-mobil warna-warni, gedung-gedung tinggi yang menembus langit, benda-benda yang ia tahu namanya, benda-benda yang tidak ia tahu namanya, benda-benda yang ia tebak dalam pikirannya yang sama dengan yang ia lihat di majalah. Satu hal yang luar biasa saat berada di luar adalah ia dapat membaca banyak tulisan; tulisan-tulisan elektronik berjalan, tulisan-tulisan di balon besar, tulisan-tulisan di bis, tulisan-tulisan besar di papan dan semuanya, dia seperti akan membaca semuanya. Terkadang suatu tulisan membuatnya tertawa, dan berpikir bahwa si penulis tidak bisa menempatkan kalimat atau kata-kata, padahal tulisan-tulisan itu hanya slogan iklan.

Lama ia berdiri sebelum kaki pincangnya dibawa menuju taman; tempat pertama, terindah dan satu-satunya yang akan selalu ia kunjungi. Ia tidak akan pergi terlalu jauh karena terlalu takut tidak akan kembali bertemu ibunya. Ia duduk di kursi taman. Orang-orang yang melihatnya pastilah bertanya-tanya makhluk apa yang ada di hadapan mereka? Rambut panjangnya kusut dan berdebu, lengan jaketnya panjang hingga menenggelamkan telapak tangannya dan baunya apek.

Ia memerhatikan orang-orang di taman satu per satu dengan hati-hati. Mempelajari dan meniru gaya mereka dengan malu-malu, menganggap orang-orang yang duduk dan membaca di bangku taman adalah seperti dirinya; sendiri dan tidak diperhatikan. Ia melangkah perlahan mendekati seorang wanita muda yang sedang membaca novel seperti kucing yang sedang mengintai tikus. Semakin mendekat semakin ingin tahu buku yang dibaca wanita itu. Wanita muda itu hampir melempar bukunya saat melihat seorang gelandangan dengan bau yang bukan kepalang sedang jongkok di hadapannya. Kontan ia segera meninggalkannya dengan setengah berlari sambil menutup hidungnya.
Tapi Samantha terbiasa dengan baunya sendiri. Menurutnya, baunya itu bukan datang dari tubuhnya melainkan dari baju tebalnya. Ia menciuminya dan kemudian mengangguk setuju dengan wanita muda tadi.

Awan-awan hitam bergerak perlahan, sinar matahari meredup, angin bertiup dingin seakan sedang mengusir orang-orang yang berada di taman. Sebuah tetesan air jatuh di ujung hidungnya. Samantha menyentuhya dengan telunjuk kanan, memerhatikannya lalu mengalihkan pandangannya ke langit, menatap butir-butir air hujan yang berjatuhan. Orang-orang berlarian mencari tempat teduh, beberapa siap dengan payungnya. Tapi ia tetap tidak bergerak. Ia sedang merasakan pengalaman pertama kejatuhan air hujan di dunia luar. Ia menutup matanya, menghirup dalam-dalam bau hujan dan membayangkan sedang berada di sebuah tempat yang ia sendiri tidak tahu. Sebuah tempat yang indah seperti taman ini.

Sesaat kemudian ia merasa kedinginan. Ia membuka mata dan melihat tempat yang sepi. Burung-burung merpati berteduh di ranting-ranting pohon, menutup tubuhnya dengan sayap-sayapnya. Kabut tipis menghalangi pandangan, tapi ia dapat menemukan bangku taman. Di atasnya ada koran dan roti yang ditinggalkan pemiliknya. Ia mengambilnya, menyimpannya di balik jaketnya dan berlari tertatih-tatih ke luar taman, melewati pinggiran toko dan kemudian menemukan belokan menuju lorong Loner Street.

***

Perempuan kurus yang ia panggil ibu tidur sepanjang hari dan hanya terbangun sesekali untuk mencari makanan. Ia menemukan roti basah dan segelas air putih di atas meja. Dengan lidahnya yang pahit, ia menghabiskannya, mengabaikan rasanya. Samantha tidak pernah melihatnya bangun. Ia hanya berada di dekatnya saat dia tidur dan bersenandung di telinganya, melantunkan sebuah lagu yang pernah ia dengar namun tidak ingat syairnya. Love is Blue yang dinyanyikan Ny. Lourie saat ia bayi. Setelah membelai rambut ibunya dan membuatnya nyaman, ia berjalan menuju jendela kamarnya dan membukanya, menjulurkan kedua tangannya, menampung air hujan dengan telapak tangannya dan meminumnya. Ia menutup jendela lalu duduk di pinggir ranjang. Bayang-bayang dunia luar masih ada dalam pikirannya. Ia mengambil koran yang masih basah, meletakkannya di atas lantai, membukanya dengan hati-hati dan membacanya dengan teliti agar tidak melewati satu kata pun.

***

Hari berikutnya Samantha bangun pagi-pagi benar, meninggalkan ibunya yang masih tidur. Ia memakai baju warna merah muda dengan tali di pinggangnya pemberian Ny. Lourie. Warnanya agak pudar tapi baunya tidak seburuk jaketnya. Ia masih mencium bau pertama kali baju itu diberikan padanya. Ia masih bisa mencium bau Ny. Lourie. Celana panjangnya berwarna hitam, jahitannya di ujungnya sudah lepas sehingga hampir menutup sepatunya. Ia menggulungnya hingga terlihat sepatunya yang kusam, menyisir rambutnya dan mengikatnya sama seperti model iklan di majalah. Ia terlihat cantik walau berjalan pincang. Ia membawa In Cold Blood yang dibungkus dengan plastik dan mengira akan menjadi seperti mereka; orang-orang yang membaca di taman.

Meski tempat itu masih sepi, tapi sudah ada beberapa orang yang berolah raga. Samantha duduk di bangku pertama kali ia duduki. Burung-burung merpati berkumpul di jalanan, sebagian bertengger di pepohonan. Ia menghitungnya. Ny. Lourie yang mengajarinya menghitung angka. Linda pernah mengajarinya menghitung uang. Ia mengatakan bahwa uang itu sesuatu yang paling penting di dunia. Jadi, ia harus bisa menghitungnya karena menghitung uang itu lebih baik dari membaca.

Di jam delapan, seorang wanita tua duduk di ujung bangkunya dengan sebuah tas coklat yang diletakkan di pangkuannya, memandang ke arah burung-burung di hadapannya. Wanita tua itu kelihatan gembira berada di taman ini seperti dirinya. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kantong plastik, mengambil biji-bijian dari dalamnya dan melemparkannya ke jalanan. Dalam sekejap burung-burung datang bergerombol mematukinya. Ia terus melakukannya hingga biji-bijian di dalam kantongnya habis. Ia masih punya kantong lainnya dan melakukan hal yang sama. Lalu tiba-tiba ia berhenti melempar karena tahu seseorang sedang memerhatikannya. Ia menengok ke arah Samantha dan menyapanya. Samantha membalasnya dengan ragu. Wanita tua itu memberi isyarat pada Samantha agar duduk di dekatnya. Tapi Samantha butuh beberapa saat untuk percaya padanya. Ia mendekatinya dengan hati-hati. Wanita tua itu meminta Samantha untuk memberikan tangannya. Dengan ragu-ragu Samantha mengulurkannya. Wanita tua itu memegang dan membuka telapak tangan Samantha dengan lembut, menaruh biji-bijian ke atasnya lalu membawanya turun dan membiarkan burung-burung datang dan mematukinya. Samantha merasa kegelian dan gembira.

Ia meminta Samantha memanggilnya nenek. Bukan nenek dari siapa-siapa karena ia tidak memiliki cucu. Tiga anaknya mati muda karena TBC. Ia menjelaskan sedikit tentang penyakit itu padanya sementara Samantha membayangkan ibunya mengidap penyakit TBC. Linda batuk keras sekali dan terkadang mengganggu Ny. Dune yang sedang tidur di kamar sebelah. Tapi nenek tidak bisa menemani Samantha berlama-lama karena harus membuka toko bukunya yang berada di seberang taman. Ia akan kembali di jam makan siang dan menantikannya di tempat yang sama.

***

Apartemennya gelap waktu siang dan malam kecuali Samantha menyalakan lampunya yang redup. Perempuan kurus itu terbangun dari tidurnya dan melangkah keluar kamarnya. Jalannya gontai, matanya hampir tidak bisa dibuka. Perutnya lapar dan ia tidak menemukan sepotong makanan. Tapi ia masih menyimpan tiga botol bir di lemarinya. Jika semuanya habis, maka habis pulalah hidupnya, begitulah yang ia pikirkan. Jack tidak pernah lagi mengunjunginya. Tidak ada yang mau mendekati orang sakit. Tidak juga anak sialan itu yang malah pergi meninggalkannya. Ia minum birnya hingga setengah botol, kemudian menghabiskan yang setengahnya lagi, dan tidak berapa lama ia ambruk di lantai.

***

Samantha membaca ulang In Cold Blood. Ia bisa menghitung rata-rata berapa kali ia membaca buku itu dari pertama kali hingga hari ini. Pastinya sudah lebih dari dua ratus kali, dan ia yakin ia bisa menceritakannya sama dengan isi buku tanpa sekali pun melihatnya. Perutnya lapar dan ia kehausan. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengelilingi taman, berharap menemukan sepotong roti lagi. Tapi hari itu tidak hujan. Mungkin karena itulah orang-orang menghabiskan roti mereka, pikirnya. Ia berhenti di depan air mancur yang memancar dari anak panah sebuah patung cupid kecil, menangkup air dalam kolam dan meminumnya. Meski merasa lebih baik tetapi ia masih kelaparan. Di sekelilingnya tidak terlihat peruntungan. Tapi nenek datang padanya, memanggilnya untuk menemaninya bercakap-cakap dan … sedikit makan siang. Nenek memberinya sepotong roti sandwich sedangkan ia sendiri menikmati buburnya. Samantha hanya separuh memakannya karena ia berniat menyimpannya untuk ibunya.

“Kau kenyang?” Nenek berkata, melihatnya memasukkan potongan roti ke dalam sakunya.

“Aku meyimpannya untuk ibuku” jawab Samantha lirih.

Jawabannya membuat nenek merasa bersalah. Ia berhenti melemparkan potongan roti pada burung-burung dan memberi Samantha semua simpanan roti di dalam tasnya.

Suatu kali nenek melihatnya membaca In Cold Blood. Menurutnya buku itu bukan untuk anak kecil. Keesokan harinya ketika bertemu kembali ia memberikan To Kill A Mockingbird pada Samantha.

Toko buku tuanya berada di dalam sebuah gedung tua. Antara toko buku dan gedungnya sama-sama tua, sedangkan usia pemiliknya hanya tinggal menambah angka tiga puluh tiga. Sebelumnya nenek memiliki seorang pembantu yang bertugas mengurus toko. Tapi pembantunya meninggalkannya satu minggu lalu karena tidak mendapatkan gajinya selama dua bulan. Selama seminggu nenek mengurus tokonya sendiri, dan itu membuatnya letih dan ingin mati. Beruntunglah ia menemukan Samantha yang suka membaca. Ia tidak bisa membayarnya untuk membantu mengurus tokonya tapi ia bisa memberinya makan dan makanan untuk ibunya yang sakit.

“Kau akan bekerja padaku. Kau akan mendapat makanan. Kau akan membaca banyak buku di sana.”

Malam harinya seperti malam-malam sebelumnya, Samantha duduk di samping Linda yang sedang tidur, membelai rambutnya, menciumi keningnya dan berbisik di telinganya, “Kita akan selalu punya makanan. Kita tidak akan kelaparan.” Tapi wanita itu tidak mendengarnya, sementara Samantha hanya mendengar bunyi nafasnya yang seperti kucing dan batuknya yang keras.

Keesokan paginya, lebih pagi dari hari sebelumnya, ia sudah berada di bangku taman dengan sebuah buku baru. Ia dapat menghitung waktu kedatangan nenek tanpa melihat jam. Ia terlihat cantik dengan baju panjang biru dengan rok biru dan kaus kaki putih hingga lututnya. Dan untuk pekerjaannya, ia dapat berpura-pura tidak pincang walau itu terasa sakit dan melelahkan.

Nenek membawanya memasuki ruangan yang redup. Samantha tidak bisa menduga isi di dalamnya. Nenek meninggalkannya di depan meja kasir sementara ia berjalan ke sudut ruangan di sebelah meja kasir untuk membuka tirai jendela. Sinar matahari masuk ke dalam ruangan, menerangi sebagian rak-rak buku dan buku-buku yang berkilauan di mata Samantha. Sementara Samantha masih dapat menahan dirinya untuk tidak mendatangi mereka dan membacanya. Nenek menyalakan lampu dan lampu-lampu pun bersinaran satu per satu hingga menerangi seluruh isi toko, membuat Samantha takjub. Baginya, ruangan itu adalah ruangan terbagus yang pernah ia lihat meski sebenarnya ruangan itu hanya sebuah ruangan rak-rak tua yang tidak terawat dengan debu-debu dan sarang laba-laba. Lampu-lampunya redup, mesin kasirnya kuno, langit-langitnya rapuh dan banyak bekas bercak air. Untuk membuka tirai jendelanya saja nenek membutuhkan tiga perempat tenaganya.

Nenek menyuruh Samantha duduk di kursi kayu tinggi di belakang meja kasir, lalu mengajarkannya cara membaca katalog harga, mencatat buku masuk dan buku yang baru dibeli, menggunakan mesin kasir dan menyusun buku. Tapi hari itu tugas Samantha hanya membersihkan rak dan buku-buku. Ia mengerjakannya dengan gembira meski kerap berhenti untuk membaca beberapa judul buku dan mengintip beberapa halamannya, membuat pekerjaannya melambat.

***

Perempuan kurus itu berjalan gontai keluar dari kamarnya. Tiap langkahnya menuruni anak tangga dapat mencelakakannya. Tangan kanannya gemetaran berpegang pada pagar tangga kuat-kuat dan mulutnya terus mengutuk anak perempuannya. Ia kehilangan keseimbangan dan terpeleset jatuh, kepalanya membentur dinding dan mengeluarkan darah. Ia beruntung tidak sampai pingsan dan karena itulah ia terus memaki anak perempuannya. “Dasar anak sialan, … anak sialan, anak brengsek!”

Ia terbangun di tengah malam, menemukan dirinya di atas ranjang. Di luar, jalanan terus mengeluarkan bunyi: orang-orang berteriak, anjing-anjing menyalak, bunyi-bunyi pemukul di tempat sampah dan beberapa kali letusan tembakan. Ia terbatuk beberapa kali sampai-sampai membangunkan Samantha. Samantha mendatanginya dan duduk di sampingnya seperti biasa, memberinya kehangatan dengan belaian di rambutnya. Tapi wanita itu tidak ingin belaiannya. Ia menatap Samantha dengan tatapan marah, nafasnya cepat secepat degup jantungnya.

“Kemana saja kau?” ia berkata, bibirnya gemetaran, tangannya merenggut baju Samantha. Samantha terlihat sedih. Sesaat kemudian wanita itu mengendurkan cengkraman dan membiarkan Samantha berdiri menjauh. Ia batuk lagi sampai-sampai merasakan perih di dadanya, membuat Samantha bertambah sedih karena teringat kata-kata nenek tentang TBC. Samantha melangkah mundur dan berlari ke dapur.

“Hei, mau kemana kau?” teriaknya. Tidak ada jawaban. Ruangan itu sepi.

Samantha datang kembali membawa segelas air putih hangat, kemudian mendekatkan bibir gelas ke bibir ibunya sementara tangan lain membimbing kepalanya agar dapat meraih gelas. Linda tidak membuka mulutnya. Ia menampar gelas itu hingga jatuh dan pecah di lantai. Samantha berjalan mundur lalu duduk di lantai bersandar ke tembok memandang ibunya yang tidak berdaya, tidak punya kekuatan untuk menghukumnya. Ia sedih, terlalu sedih.

***

Toko buku tua buka lebih pagi sejak kehadiran Samantha. Para pembeli kagum dengan kecepatan Samantha mendapatkan buku mereka. Toko buku tua bersinar lagi seperti kembali ke masa kejayaannya beberapa belas tahun silam. Nenek terlihat lebih segar dan mulai bisa menggaji Samantha. Ia membelikan Samantha sebuah mesin tik ringan di ulang tahun Samantha yang ke sepuluh, namun Samantha tahu caranya berterima kasih. Ia akan menuliskan cerita-cerita indah dengan mesin tik barunya.

“Kau bisa mendapatkan uang dengan cerita-ceritamu” ucap nenek setelah membaca sebuah puisinya. Tapi Samantha tidak terlalu memikirkan itu. Ia mengucapkan terima kasih untuk sebuah pujian yang lama ia tidak dapatkan sejak Ny. Lourie mengatakan bahwa ia seorang gadis kecil yang cantik.

***

Saat itu bulan terakhir pemilihan walikota dan nenek punya cerita sendiri tentang salah satu calonnya. Michael Halley, salah seorang kandidat walikota berasal dari tempat yang terpinggirkan seperti Loner street, pernah menjadi pencuri mobil saat usianya lima belas tahun dan keluar masuk penjara dengan kejahatan berbeda-beda, kebanyakan pencurian. Sebuah harapan muncul saat pendeta Moose mengambilnya dan membebaskannya dengan jaminan dirinya. Kini usianya empat puluh dua, kaya raya dan mempunyai peluang besar memenangkan pemilihan karena mendapat dukungan dari para pekerja dan orang-orang miskin.

“Dia sering main ke sini waktu kecil” ucap nenek pada Samantha. “Aku membuatkannya kue. Anak-anak memang suka kue, seperti kau Samantha. Mike akan menjadi walikota yang baik”

Hari itu nenek terus membicarakan tentang Michael Halley. Ia menceritakannya lagi hari berikutnya dan hari-hari berikutnya hingga Michael Halley terpilih menjadi walikota. Hari terpilihnya itu bertepatan dengan terbitnya biografinya. Nenek dengan bangga memajang buku-bukunya di etalase toko.

Walikota Halley tidak pernah melupakan toko buku tua dan wanita tua si pemilik toko. Tapi bukan karena kenangan masa kecil ia mengunjungi toko buku tua satu minggu setelah hari terpilihnya. Bagaimanapun juga toko buku tua dan tiga gedung di sebelahnya adalah tempat strategis untuk membangun menara Halley.

“Nona, aku baru saja kehilangan salah satu buku Capote. Tolong ambilkan aku In Cold Blood” Walikota Halley berkata pada si penjaga toko, Samantha.

Sudah lebih dari setahun Samantha tidak pernah membaca In Cold Blood. Ia masih ingat semua kalimat-kalimat dan letak halamannya. Ia ingin menunjukkan kemampuannya pada walikota mengenai gambaran detail kota Holcomb atau pemakaman keluarga Clutter. Tapi walikota adalah orang besar dan ia tidak mungkin macam-macam dengan orang besar. Sementara itu nenek dan walikota Halley masih saling mengingat, bercakap-cakap tentang masa lalu dan pembicaraan seputar jumlah nominal uang.

“Kau tidak perlu memikirkan hutang-hutangmu lagi. Menara Halley akan menjadi simbol kemenangan orang-orang miskin. Aku menawarkanmu harga terbaik” ucap Walikota Halley pada nenek.

Nenek tidak banyak berkata. Tidak pula membayangkan harga yang fantastis untuk sebuah toko buku tua. Terlalu banyak kenangan pada toko ini. Ia teringat pada suaminya ketika pertama kali mendirikannya. Membuat brosur promosi dan menawarkan makan siang gratis untuk dua puluh pembeli pertama. Usaha mereka berhasil. Toko buku tua, yang sebelumnya bernama K & Q (King & Queen), menjadi toko buku terlaris di NY. Tapi sayang suaminya tidak melihat K & Q tumbuh besar dan memiliki gedung tingkat tiga. Suaminya meninggal karena TBC. Ia membenci TBC sejak kematian anak-anaknya. Ia menyumbang sejumlah besar uang untuk tiap rumah sakit yang memiliki perawatan khusus untuk TBC dan membuatnya hampir bangkrut. Ia adalah seorang wanita yang bertahan meski K & Q berjalan tertatih-tatih. Beberapa tahun lalu nama K & Q diturunkan karena papan reklamenya dirusak anak-anak berandalan, dan sejak saat itu toko buku itu berubah nama menjadi Toko Buku Tua tanpa plang nama, sebuah nama yang sesuai dengan pemiliknya yang renta.

Tapi bukan dengan kenangan nenek menjawab tawaran walikota Halley. Tentu saja ia menerima penawaran walikota Halley. Bahkan wanita tua pun butuh bersenang-senang bukan? Ia akan membicarakannya dengan Samantha nanti. Anak kecil itu bukan apa-apa. Hanya seorang anak kecil yang ia pungut di taman dan ia beri makan dan pekerjaan. Barangkali Samantha akan kembali seperti biasa, bergentayangan di taman. Lagipula setidaknya ia akan membuat anak itu senang karena ia akan memberi beberapa buku padanya.

“Kurasa kita harus merayakan ini” ucap walikota Halley, lalu menyuruh pengawalnya mengambilkan satu botol sampanye di limosinnya. Barangkali nenek masih bisa menikmati minuman itu.

Nenek dan walikota Halley sengaja berpindah ruangan agar tidak terlihat Samantha dan sengaja lebih awal merayakannya. Walikota Halley sudah menyiapkan suratnya. Nenek menandatanganinya dan menerima sejumlah uang muka. Walikota Halley menyuruh pengawalnya membawakan tiga botol sampanye lagi. Kali ini khusus disimpan untuk nenek.

Mereka keluar ruangan dengan penuh senyum. Samantha ikut tersenyum. Walikota Halley hampir lupa bukunya jika Samantha tidak berjalan menghampirinya.

“Sir, Anda lupa bukunya” sapa Samantha. Walikota Halley berhenti berjalan dan melihat seorang bocah lugu datang padanya.

“Tentu. Aku akan menandatanganinya nak.” Walikota Halley benar-benar lupa. Tapi nenek sudah berdiri di samping Samantha, menukar In Cold Blood-nya dengan biografi walikota Halley.

“Ia sangat mengagumimu, Mike. Maksudku … pak walikota” ucap nenek tersenyum. Walikota Halley menyambut buku biografinya dan menandatanganinya.

“Ini dia, nak.” Ia berkata, menyerahkan buku itu pada Samantha.

“Ucapkan terima kasih, Samantha” bisik nenek pada Samantha.

“Terima kasih, walikota Halley” ucap Samantha, memandangi walikota Halley hingga keluar dari toko.

Siang di awal Juni saat usia Samantha dua belas tahun. Toko buku tua sudah tergantikan dengan kerangka menara Halley, sebuah mega proyek pembangunan hotel mewah yang akan menyaingi pesona Empire State. Diperkirakan awal tahun depan menara Halley sudah selesai dan diresmikan. Samantha memandangi kenangan bersama nenek di toko buku tua. Ia menerima sepuluh dolar dari nenek untuk uang perpisahan dan sepuluh buku yang ia pilih sendiri. Ia tidak pernah tahu nenek meninggal lima hari setelah pertemuan dengan walikota Halley. Wanita tua itu nyatanya terlalu payah untuk menghabiskan satu botol sampanye sekaligus.

“Hei, pergilah! Ini bukan tempat untuk anak kecil” ucap salah seorang pekerja menara Halley.

“Tom, mungkin dia ingin makanan” ucap pekerja lainnya, mengeluarkan sebungkus roti dari kotak makan siangnya dan memberikannya pada Samantha. Samantha mengambilnya, mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan tempat itu. Tapi ia tidak memakan rotinya. Ia membawanya pulang untuk Linda.

Samantha membersihkan dan menata ulang tempat tinggalnya. Apartemen itu memang lebih baik, tapi baginya tidak ada yang lebih baik dari melihat ibunya kembali sehat.

“Aku akan menulis. Aku akan membuat cerita, seperti penulis-penulis terkenal lakukan. Kita akan dapat uang” bisik Samantha di telinga ibunya. Ibunya mungkin tidak mendengarnya karena sedang tenggelam dalam tidur yang menyiksanya.

Samantha melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamarnya. Ia duduk di hadapan mesin tik, memandanginya sesaat lalu memasukkan secarik kertas berwarna kuning yang ia dapatkan tadi siang di pinggir jalan. Kertas dengan noda minyak bekas pembungkus hotdog. Ia tidak segera menekan tombol-tombol mesin tiknya. Ia terdiam ketika mendengar suara batuk ibunya yang keras. Ia menangis.

Ia berjalan keluar keesokan paginya. Angin bertiup dingin namun matahari bersinar cerah dan menghangatkan. Samantha duduk di bangku taman mengenakan baju tebalnya, memandang kemegahan menara Halley yang hampir jadi. Ia masih hapal judul-judul buku yang dijual nenek, ia masih ingat letak penyimpanannya, ia masih ingin memegang mesin kasir tua itu. Ah, hampir saja ia terlena dalam lamunannya jika tidak teringat kalau ia harus mencari kertas untuk menulis.

***

Samantha menulis kisahnya sendiri, ditulis dengan detail yang indah tiap malam dari sudut pandang orang ketiga, seperti seseorang yang menjadi teman terdekatnya, menyaksikan kehidupannya. Malam-malam dimana ia membisikkan di telinga ibunya yang sedang tidur tentang kemajuan tulisannya dan mimpi-mimpinya. Seperti yang ia tulis di bawah ini:

Air mata dan kesedihan … mana yang membuatnya lebih sedih dari kehilangan ibunya. Air mata dan kebahagiaan … mana yang membuatnya lebih bahagia selain melihat ibunya bahagia.

Ia menggunakan kertas karbon bekas sebagai pengganti pita mesin tiknya yang habis. Ia pernah menggunakan kertas karbon sewaktu di toko buku tua. Jika kelihatannya kurang jelas maka ia akan mengetiknya dua kali. Begitulah yang ia lakukan tiap malam hingga pada suatu ketika ia akan menemukan akhir ceritanya. Ia pernah berpikir membuat sebuah akhir bahagia. Mungkin benar apa yang dikatakan nenek. Mungkin ia akan mendapatkan uang dari menulis. Seperti yang Capote lakukan, seperti yang King lakukan.

Tapi, kehidupannya tidak sesederhana tulisannya. Kuceritakan padamu bagaimana ia hampir mati dengan perlakuan kasar para berandalan yang hampir memerkosanya jika salah seorang pekerja menara Halley tidak menolongnya. Bagaimana ketika ia dituduh mencuri dan sesekali mendapat siksaan. Dan kematian Jack. Jack mati seperti seharusnya preman-preman mati. Dibunuh. Samantha Loner yang membunuhnya. Aku seharusnya tidak menceritakan ini karena akan merusak keluguan dan kepolosan Samantha. Tapi Jack-lah yang membunuh Ny. Lourie. Jack juga memerkosa Samantha dan satu kali melakukannya di sebelah Linda. Di saat itulah Samantha melihat mata ibunya yang seakan mengatakan padanya untuk mengakhiri hidup Jack. Samantha Loner punya cara sendiri menghabisi Jack seperti cara ia menulis kisahnya. Detailnya sangat jelas, sejelas suara kematian Jack dan darah yang mengalir deras keluar dari kerongkongannya yang robek dalam (Samantha meniru Perry Smith saat membunuh tuan Clutter. Dia ingin sekali melakukannya pada Jack). Dan untuk sebuah keberhasilan, ia membisikkan di telinga ibunya; “Aku membunuhnya, ma. Aku membunuh Jack.” Ia lalu menuliskannya dengan hati-hati.

***

Di malam peresmian menara Halley yang penuh keglamoran, Samantha duduk menyaksikannya dengan penuh kagum atraksi kembang api dan akrobat laser. Ia juga mendengar musik-musik indah dan pidato walikota Halley. Tapi ia masih bertanya-tanya mengapa walikota Halley melupakan buku yang akan dibelinya. In Cold Blood masih disimpannya. Buku yang sama ketika ia akan menyerahkannya pada walikota Halley beberapa waktu lalu. Mungkin ia akan mengingatkan pak walikota suatu saat nanti.

Taman itu ikut terang benderang karena cahaya kembang api yang mewarnainya. Ia bisa melihat orang-orang di taman dengan jelas yang sama-sama menikmati fantasi peresmian menara Halley. Ia bisa mengenali Tom, salah seorang pekerja menara Halley, orang yang menyelamatkannya dari anak-anak berandalan yang akan memerkosanya. Tubuhnya besar, rahangnya kuat, satu tangannya bisa mengangkat dua anak berandalan. Telapak tangannya mampu meremukkan kepala mereka saat itu. Teman-teman kerjanya memanggilnya Big Tom. Samantha menempatkan Tom di sebuah peran bagus dalam tulisannya dan terkadang ia melebih-lebihkannya.

Tom sedang memandangi hasil pekerjaannya dengan penuh kebanggaan, duduk di rerumputan sambil menikmati kacang dan beberapa kaleng minuman ringan di sampingnya. Setelah proyek menara Halley selesai ia berencana akan kembali ke pekerjaan lamanya sebagai tukang bersih di sebuah universitas. Proyek itu memberinya uang banyak sehingga ia mampu menyewa tempat yang lebih baik.

Samantha mendatanginya dengan diam-diam, mengira dapat mengejutkannya. Tapi tidak, ia tidak biasa melakukannya, ia hanya duduk di sampingnya.

“Halo Samantha” ucap Tom, mengusap kepala Samantha.

“Hai, Big Tom” balas Samantha.

“Kaulihat itu?” Tom menunjuk dengan tangan kanan yang memegang minuman ke arah menara Halley.

“Big Tom yang membuatnya” ucap Samantha.

“Gadis pintar” ia tersenyum padanya, mengambil satu kaleng minuman. “Haus?”

Samantha mengangguk. Ia tahu cara membukanya. Tom yang mengajarkannya saat pertama kali ia minum soda.

“Bagaimana ibumu?” tanya Tom, tapi ia buru-buru mengganti pertanyaan lain karena pertanyaan itu akan membuat Samantha sedih. “Bagaimana tulisanmu?” lanjutnya. Samantha pernah membuatkan puisi untuk Tom, berjudul “Temanku Big Tom.”

“Tinggal sedikit lagi. Tapi aku belum tahu akhirnya.”

“Kau akan tahu nanti” Tom berkata seolah-olah ia seorang penulis.

“Apa?”

“Semua cerita ada akhir bukan?”

“Ya” Samantha meneguk minumannya.

Nyala kembang api masih terus berlanjut, musik terus menghentak dengan akrobat laser meliuk-liuk di langit. Dua lelaki muda, entah darimana datangnya berdiri di hadapan mereka seakan sengaja menghalangi pandangan. Masing-masing memegang dua batang besi panjang. Cahaya kembang api yang menerangi tempat itu memberikan kejelasan dua lelaki itu. Satu orang berambut gondrong, satu lainnya berambut pendek. Sama-sama mengenakan jaket hitam. Mereka adalah berandalan yang hampir memerkosa Samantha. Dua berandalan yang pernah mendapat pukulan telak dari Tom.

Mereka melangkah mendekati Tom dan Samantha sambil memamerkan tongkat yang mengkilat tertimpa cahaya kembang api dan maksud yang jelas. Mereka akan menghabisi Tom di tempat itu.

Tom berdiri, Samantha mengikutinya dan bergerak mundur. Tom menyuruh Samantha berlindung di belakangnya. Matanya mengawasi gerakan mereka, tangan kirinya memegang tubuh Samantha supaya mengikuti gerak tubuhnya.

“Hei, aku tidak ingin macam-macam dengan kalian” Tom memperingatkan.

Mereka menjawabnya dengan satu pukulan tiba-tiba ke kepala Tom.

Satu hantaman ke lengan Tom. Satu pukulan lagi mendarat di tulang rusuknya hampir mengenai kepala Samantha. Berikutnya hujan pukulan mendarat di ke lengan Tom, lalu kedua kakinya. Samantha mendengar jelas bunyinya. Tom hampir ambruk, dua tangannya menahan gencaran bertubi-tubi hujaman batang besi. Ia terus bertahan dengan tangannya yang bengkak dan mengeluarkan darah.

Tapi dua berandalan itu seharusnya butuh dari sekedar tongkat besi untuk menghabisi Tom. Tom bangkit berdiri, bergerak menyeruduk seperti banteng dengan dua tangan menutupi kepala menerobos gencaran pukulan bertubi-tubi, berteriak sebagai pengganti rasa sakit dan merebut satu batang besi. Kakinya gontai, tapi tangan kanannya masih cukup kuat untuk memberi pelajaran balasan pada mereka. Berandalan yang kehilangan tongkat besi mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Melemparnya dan menangkapnya dengan tangan kiri dan kanannya bergantian, kemudian menusuk-nunusukkan ke tubuh Tom. Berandalan yang lain menghantam batang besi dari atas. Tom dapat menangkisnya sehingga menimbulkan bunyi yang keras. Disusul satu tusukan gagal ke arah perut Tom. Tom membalas dengan menendang kemaluannya dan membuatnya terjungkal. Ia membabat mereka dengan ganas hingga satu per satu dari mereka roboh. Bertubi-tubi mereka merasakan hantaman Tom. Naas nasib mereka tapi Tom sekali lagi hanya membuat pelajaran. Ia membiarkan mereka pergi.

Tom menjatuhkan diri, bertumpu pada dua lututnya dan batuk beberapa kali. Samantha ragu untuk mendekatinya, tapi akhirnya ia memaksakan diri mendekati Tom. Ia merasa bersalah. Tom sering kali berbuat baik pada dirinya. Begitu sedikit orang yang berbuat baik dalam hidupnya. Ia sudah kehilangan Ny. Lourie dan Nenek, dan kini ia hampir kehilangan Tom.

“Big Tom …” ia memanggilnya. Ia melihat darah di kepalanya, di tangannya dan bajunya. Tapi ia tidak bisa melihat wajahnya.

Tom lelah dan kesakitan. Ia memilih meninggalkan Samantha, menjauh darinya tanpa berkata apa-apa. Samantha memandang sedih Tom yang berjalan kelimpungan dan beberapa kali hampir jatuh. Kini pandangannya kosong seiring menghilangnya bayangan Tom di balik bayang-bayang pepohonan.

Gemerlap peresmian menara Halley terus berlanjut dan semakin marak. Sebuah pemandangan yang kontras dengan kehidupan Samantha Loner. Kemewahan. Samantha bahkan tidak tahu arti kata itu. Ia hanya tahu hanya sakit yang sepertinya sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tom sudah pergi meninggalkannya, mungkin untuk selama-lamanya.

Ia mengambil sebilah pisau yang tergeletak di atas rumput. Sebuah pisau sepanjang dua puluh lima sentimeter yang mengkilap. Ia dapat melihat dirinya di situ. Pisau itu seakan menarik dirinya. Benda itu bagai sebuah harga yang pantas untuk membayar hari-hari yang menyakitkan, untuk orang-orang yang menyakitinya dan untuk sebuah akhir cerita. Ia menginginkan sebuah akhir bahagia, tapi apa yang ia tahu tentang kebahagiaan sangat berbeda dengan tafsiran kita. Baginya, cerita-cerita bahagia adalah cerita yang sama dengan dirinya. Carrie atau Misery, ia suka buku itu dan buku-buku yang mengajarkan cara menuntaskan penderitaan dengan dendam. Baginya, kebahagiaan adalah mengakhiri hidup orang yang mengancam dirinya. Tapi, sayangnya Tom tidak melakukan itu. Ia mengakhiri hidup Jack si perampok untuk membebaskan Linda dan untuk Ny. Lourie. Tom seharusnya melakukannya, atau ia yang akan melakukannya.

Samantha berjalan meninggalkan tempat itu mengikuti jejak-jejak darah dua brandalan tadi. Ia mempercepat langkahnya dan semakin cepat hingga ia berlari. Ya, si pincang itu berlari. Tangan kanan menggenggam kuat benda yang berkilauan itu. Semakin dekat dengan jarak dua berandalan tadi. Dari arah yang terukur, ia melompat menerjang salah satu berandalan di punggung. Ia menghujam yang lainnya. Serangannya yang tiba-tiba dan cepat itu mengakhiri hidup mereka tanpa perlawanan. Keduanya mati akibat tikaman yang dalam di leher mereka.

Samantha mendapatkan dirinya dalam keadaan yang mengerikan. Tangannya dan wajahnya penuh darah. Ia membuang pisau itu dan berjalan menyusuri taman. Ia membersihkan dirinya di air mancur cupid kecil. Ia tersenyum, karena bagaimanapun juga berandalan itu tidak akan pernah mengganggunya lagi. Ia melangkah menyusuri lorong Loner Street dengan tergesa-gesa, membawa akhir kisahnya.

“Tulisanku sudah selesai. Aku tinggal mengirimkannya. Kita akan mendapat uang banyak” ia membisik di telinga ibunya. Kali ini Linda dapat mendengarnya. Perempuan itu membuka sedikit matanya dan wajah Samantha.

Samantha mengirimkan tulisannya keesokan harinya, di hari yang sama polisi menangkapnya. Hasil pengadilannya jelas. Dua puluh lima tahun penjara. Waktu yang cukup banyak untuk menulis kisah lainnya.

Dan untuk sebuah kisah lain yang tidak ia ceritakan dalam bukunya, Linda mendapatkan ketenaran dan keglamoran. Bukunya dianggap sebagai In Cold Blood seri dua dan menjadi best seller selama beberapa minggu. Pers dan kritikus memuji keberhasilannya mengikuti kehidupan si pembunuh dan detail yang jelas mengecoh pembaca seolah itu adalah bacaan fiksi. Well, wanita itu menjawab bahwa ia pernah hidup dengan seorang pembunuh.[]

Penulis: Ali Reza | Teks | Pic

1 komentar: