[Cerpen Horor] Kisah Mistis Penganut Ilmu Siluman Harimau | Cerpen Horor
Home » » [Cerpen Horor] Kisah Mistis Penganut Ilmu Siluman Harimau

[Cerpen Horor] Kisah Mistis Penganut Ilmu Siluman Harimau

Written By Admin Cerpen Horor on Thursday, March 28, 2013 | 9:00 PM

Sebuah kisah menarik sekaitan dengan Ilmu Siluman Harimau berhasil ditelusuri beberapa waktu yang lalu. Kisahnya sendiri pesisnya terjadi sekitar tahun 1997 di sebuah desa di Utara Kota Palembang.

Adalah Pak Baihaimi (bukan nama sebenarnya), usia 47 tahun, suka menuntut ilmu kebatinan sejak usia remaja. Sayangnya, dengan kekuatan ilmu yang dimilinya, dia kerap iseng menggoda wanita-wanita cantik. Bahkan, isterinya sudah banyak dan selalu kawin cerai, namun dia masih saja melirik gadis-gadis.

Suatu ketika, Pak Baihaimi naksir berat pada seorang gadis yang sebut saja bernama Tuti. Tanpa ada rasa malu sedikit pun, dia langsung meminangnya. Karena terkena pelet canggih milik Pak Baihaimi, Tuti tak bisa mengelak dari pinangan itu. Dia  pasrah saja menerimanya.

Singkat cerita, keduanyapun menikah secara resmi, meski ketika itu usia mereka terpaut sangat jauh. Pak Baihaimi mungkin lebih pantas menjadi ayah dari Tuti, isterinya. Tapi herannya, sejak Tuti menikah, sekalipun belum pernah sang suami berhasil menembus mahkotanya. Padahal bagi Pak Baihaimi ini termasuk lelaki yang lihay dalam urusan ranjang. Bahkan dapat dikatakan Tuti merupakan perempuan yang kesekian yang pernah digaulinya.

Kegagalan merobek keperawanan isterinya, membuat laki-laki setengah baya ini mengalami kebingungan dan keresahan yang luar biasa.

"Apa yang telah terjadi?" Gumamnya dalam hati. "Kenapa aku gagal dengan gadis ini?"

Hampir sebulan usia perkawinan mereka, Tuti masih tetap dalam kondisi perawan, dalam arti rudal Pak Baihami belum bisa mencapai orbit milik Tuti. Sementara, sebagai perempuan yang lugu, Tuti sendiri tidak pernah mengeluh, meskipun suaminya selalu gagal mengajaknya ke puncak pendakian asmara yang tertinggi. Yang penting baginya nafkah materi terpenuhi dengan baik.

Sampai suatu malam, Pak Baihaimi bermimpi. Cukup aneh mimpinya itu. Terdengar suara tanpa wujud yang menyuruhnya agar menyediakan ruangan khusus untuk isterinya tidur sendirian, dengan jendela terbuka agar angin malam bebas masuk.

"Lakukanlah permintaanku ini, Baihaimi!" Tegas suara yang mirip dengan suara seorang lelaki tua yang sangat dikenalnya, meskipun wujudnya tidak kelihatan dalam mimpi tersebut.

Sebagai seorang yang percaya masalah gaib, Pak Baihaimi melaksanakan perintah yang diterima lewat mimpi tersebut, sebab dia menganggapnya sebagai wangsit. Sementara, meskipun agak heran, Tuti menurut saja apa yang diarahkan suaminya untuk tidur berpisah ranjang sementara waktu.

Ya, sesuai dengan bunyi pesan lelaki tua dalam mimpinya, manakala bulan mulai purnama, Pak Baihaimi memilih tidur diluar, sedangkan isterinya tidur di ruang khusus yang jendelanya sengaja dibuka.

"Kalau kamu mengalami hal-hal yang aneh, tak usah gentar dan cemas!" Kata sang suami sebelum Tuti berangkat tidur malam itu.

"Kalau ada yang masuk menemanimu, anggaplah dia aku, suamimu!"

"Saya kurang paham, Pak?" Tuti menyipitkan kedua bola matanya.

"Cukup sulit untuk dijelaskan, karena mungkin saja penampilan suamimu malam ini agak berbeda!" Ungkap sang suami sambil berlalu setelah menutup dan mengunci pintu dari luar.

Malam semakin larut. Dan Tuti telah menguap berkali-kali, menandakan dia telah mengantuk berat. Tiba-tiba angin bertiup agak kencang, masuk melalui jendela yang terbuka. Dan bersamaan dengan itu, muncul sesosok makhluk yang cukup sukar untuk dilukiskan bentuknya.

Makhluk misterius itu langsung saja menggumuli tubuh Tuti dengan bernafsu. Sesuai dengan pesan suaminya, wanita yang masih tetap perawan tersebut tampak pasrah saja dan menganggap semua itu telah diatur dan direkaya oleh sang suami.

Tuti yang selama menikah dengan Pak Baihaimi tidak pernah mengalami orgasme, saat itu menikmatinya berkali-kali. Dan keperawanannya langsung terkuak akibat keperkasaan sang makhluk.

Paginya, sekujur tubuh wanita muda itu lemah lunglai. Nyaris semalaman dia disetubuhi oleh makhluk misterius tersebut. Tapi entah kenapa dia tidak berani melaporkan kasus aneh itu ke suaminya. Lagi pula dia tidak ingin munafik, malam itu Tuti mengalami kepuasan seksual yang bukan kepalang.

Anehnya, sejak ritual mistis malam itu, Pak Baihaimi mulai mampu melaksanakan kewajibannya sebagai suami. Memberikan nafkah batin kapan dan dimana saja. Keduanya seolah-olah mengalami malam pengantin yang tertunda.

Waktu terus berlalu. Tuti merasa dirinya telah hamil. Namun dia belum dapat memastikan apakah kehamilannya tersebut berasal dari benih suaminya, ataukah berasal dari benih makhluk yang telah menguak kegadisannya.

"Kalau kamu melahirkan setelah hamil tiga bulan, berarti bayi itu berasal dari sperma "seseorang" yang ingin menolong kita," kata Pak Baihaimi menjawab pertanyaan isterinya yang kebingungan.

"Seorang wanita biasanya melahirkan setelah sembilan bulan atau lebih, kok saya berbeda. "Saya takut, Pak!" Tuti merinding bulu kuduknya.

"Kamu tak usah terlalu cemas, semuanya ini kulakukan demi keutuhan rumah tangga kita," bujuk Pak Baihaimi tmenyabarkani isterinya. "Kalau kamu melahirkan setelah tiga bulan, kamu akan tetap sehat-sehat saja!" Lanjutnya.

Genap sudah tiga bulan usia kehamilan Tuti. Seperti yang diramalkan suaminya, dia kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang normal. Aneh, normal dalma arti tidak berbeda dengan bayi-bayi lainnya!

Yang tak kalah aneh, si bayi cepat sekali pertumbuhan badannya, dan nakalnya minta ampun. Pasangan suami isteri tersebut cukup sukar juga menghadapi tingkahnya yang macam-macam.

Anak itu diberi nama Inyiak. Hal ini sesuai dengan bisikan dalam mimpi yang diterima Pak Baihaimi begitu bayi itu lahir.

Singkat cerita, Inyiak disekolahkan sebagaimana anak-anak seusianya. Ketika berusia sekitar tujuh tahun, Inyiak senang memakan ikan yang tidak dimasak, ikan yang terkadang masih hidup pun bahkan ditelannya begitu saja.

Selerahnya pada yang mentah-mentah berlanjut pada daging hewan yang lainnya. Anak ayam peliharaan tetangga sering dimakannya hidup-hidup, bahkan bersama bulu-bulunya.

Kalau berkelahi dia paling bringas dan sangar.  Sering mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya sehabis dikeroyok oleh teman-teman seusianya. Meskipun luka-luka itu cukup parah, dia tidak mau diajak berobat ke dokter, dan akhirnya memang sembuh dengan sendirinya.

Ketika usianya semakin meningkat remaja, kenakalannya semakin menjadi-jadi. Inyiak sering terlihat masuk hutan, seperti ada yang dicarinya di sana.

Suatu ketika, begitu pulang dari hutan, dia melaporkan ke ibunya, "Bu, tadi di dalam hutan saya ketemu harimau. Bukan induknya, tapi anak-anaknya. Anak-anak harimau itu sangat akrab dengan saya. Kami bercanda dan bermain-main bersama."

Tentu saja sang ibu heran menyimak laporan anaknya. Ketika hal itu dilaporkannya kepada sang suami, tampaknya Pak Baihaimi tenang-tenang saja. Seperti tidak ada yang dirisaukannya.

Di era remaja yang penuh romantisme, Inyiak mulai menggoda cewek-cewek guna menyalurkan hasrat cintanya. Bahkan, dengan kekuatan gaib yang dimilikinya, sudah cukup banyak gadis dan perawan yang telah ditidurinya.

Meskipun demikian, dia belum puas. Sudah lama Inyiak tertarik pada tubuh ibunya sendiri yang masih seksi dan sangat menggairahkan. Hingga di suatu malam, dia mencoba menelanjangi Tuti ketika ayahnya tidak di rumah. Meskipun sang ibu berulang kali mengatakan bahwa perbuatan anaknya itu merupakan dosa terbesar dan sukar diampuni Yang Maha Kuasa, namun Inyiak seolah tak peduli. Dia  hanya tersenyum sinis, dan terus saja meneruskan niat bejadnya untuk segera bersenggama dengan ibunya.

Sang ibu tak bisa melawan kekuatan anaknya yang luar biasa. Dia cuma bisa bersikap pasrah, dan membiarkan anaknya berbuat sekehendak hatinya malam itu.

Anehnya, Inyiak melakukan perbuatan biadab tersebut mirip dengan makhluk misterius ketika malam itu keperawan Tuti terenggut. Dia begitu agresif dan menyetubuhi Tuti dengan beragam macam gaya yang yang bisa dianggap sangat liar. Tuti tidak ingin munafik, karena malam itu dia cukup menikmatiknya.

Selepas persetubuhan biadab itu, Inyiak melirik ke arah tubuh telanjang di sebelahnya. Pandangannya aneh. Tuti cuma diam saja, sampai sang anak melangkah keluar kamar meninggalkannya.

Sebagai seorang ibu yang berharap anaknya menjadi insan yang baik, Tuti tak tahan untuk tidak melaporkan kekurangan Inyiak kepada suaminya. Pak Baihaimi sendiri cukup kaget mendengar pengaduan isterinya.

"Saya telah berusaha maksimal untuk melarangnya, Pak. Tapi kau tahu sendiri, aku ini terlalu lemah untuk bisa melawannya!" Ucap Tuti sambil menyusut air matanya.

"Anak kita itu malam tadi berperilaku aneh seperti seekor harimau jantan, ingin mencakar-cakar kalau niatnya dicegah!" Tambahnya lagi.

Pak Baihaimi tercenung cukup lama. Dalam waktu bersamaan dia teringat ketika dia dulu bertemu dan minta petunjuk ke guru kebatinannya setelah melaporkan bahwa dia belum mampu meniduri isterinya yang bernama Tuti itu secara utuh.

Sang guru tampak cengengesan, lalu meminta Pak Baihaimi merelakan isteirnya yang masih tetap perawan itu ditiduri oleh siluman harimau. Dan sang guru juga pernah meramalkan pada suatu hari kelak, bayi yang lahir dari benih siluman harimau tersebut akan tertarik kepada ibunya sendiri, dan berusaha untuk menyetubuhinya.

Ramalan tersebut telah menjadi kenyataan. Malam tadi ketika dia tidak dirumah, Inyiak telah menyetubui ibunya sendiri.

"Bagaimana langkah kita, Pak? Aku takut anak itu akan mengulangi perbuatannya lagi!"

Kegusaran Tuti membuyarkan lamunan lelaki setengah baya tersebut. "Ini tidak boleh terulang kembali!" Gumamnya kemudian.

Lalu, dia memberi jalan keluar, "Sebaiknya, anak kita itu dikirim saja ke rumah sakit jiwa karena perbuatannya sudah keterlaluan!"

"Tapi…."

"Tapi apa, Tuti?" Potong sang suami cepat.

"Apa benar Bapak pernah menuntut Ilmu Siluman harimau?" Tuti menatap wajah suaminya lurus-lurus.

Pak Baihaimi tertunduk lesu. Pertanyaan isterinya barusan tidak mampu dijawabnya. Dia terus saja membisu hingga beberapa hari kemudian, Inyiak, anak mereka tidak pernah kembali lagi ke rumah. Dengan dibantu beberapa orang tetangga terdekat, Pak Baihaimi berusaha mencarinya, bahkan hingga masuk hutan.

Sementara, Pak Baihami masuk hutan bersama para tetangga, Inyiak malah kembali ke rumah secara diam-diam. Dia ngin mengulangi perbuatan bejatnya, meniduri ibunya dalam kamar.

Saat itu, Tuti kembali hanya bisa pasrah. Dia tak berdaya melawan. Dengan hati remuk dia membiarkana anak laki-lakinya yang telah kesetanan itu menikmati tubuhnya yang telanjang.

Pada hakekatnya, Inyiak bukan kesetanan, tapi dia memang sesosok setan. Bahkan kelahirannya ke dunia ini juga dari makhluk Siluman Harimau. Hal musykil ini dapat terjadi atas kesepakatan Pak Baihaimi dengan sang guru.

Tidak lama kemudian Tuti hamil dan tiga bulan kemudian melahirkan sesosok bayi yang berkepala manusia namun bertubuh harimau. Bayi aneh dan ajaib tersebut tidak berumur panjang. Sang bayi mati dalam usia empat puluh hari.

Setelah kematian anaknya yang kedua itu, Tuti menyusul ke alam baka. Yang paling tragis, kematian Pak Baihaimi beberapa bulan kemudian, menyusul setelah kematian isterinya. Tubuh laki-laki setengah baya ini ditemukan terluka pasrah seperti dicabik-cabik  harimau. Nyaris warga desa tak mampu mengenalinya lagi.

Indospiritual

0 komentar:

Post a Comment