Friday, November 30, 2012

Aku Ditampaki "Dia-yang-Tidak-Kelihatan-Wajahnya"

Hari ini aku berangkat ke Jogja untuk memulai proyek renovasi jembatan. Bos Eko, mandorku, sudah mengontak kemarin. Aku tidak sendiri, ada empat kawan yang ikut dalam rombongan: Slamet, Jaswadi, Wagiran, dan Kismiadi.

Kami berangkat jam 12.00-an, karena menanti semua ngumpul di rumah Jaswadi. Perjalanan dari Kebumen ke Jogja sendiri membutuhkan waktu 3-4 jam. Karena perlu mencari lokasi juga, kami sampai di tempat proyek jam 5-an lebih.

Kami mulai kerja keesokan harinya. Dan kami memutuskan menginap di tempat proyek. Di mana, pada malam hari, kami tidur di buk - rumah-rumahan yang terbuat dari triplek, biasanya untuk meletakkan perlengkapan kerja proyek. Tapi, kami tidur di luar tanpa dinding dan hanya dialasi triplek yang telah dibentuk sedemikian rupa menyerupai tempat tidur. Tak masalah bagi orang macam kami tidur di mana pun.

Kami semua tidur jejer-jejer bak ikan asin dijemur. Lelah akibat perjalanan jauh, ditambah lampu putih yang cuma 8 watt sehingga remang-remang, membuat kami lebih cepat tertidur pulas.

Di seperempat malam, aku ngililir (terbangun, red.). Aku yang terlentang melihat ke ujung kakiku. Kulihat ternyata ada seseorang tidur melintang. Seseorang itu memakai celana warna putih, baju putih, dengan muka yang tidak terlihat jelas - karena remang-remang. Sebetulnya aku ingin membangunkan temanku. Tapi, rasa takut menguasaiku, sehingga aku hanya bisa terdiam saja. Tidak berani menggerakkan apa-apa.

*

Keesokan harinya, ketika makan siang dan kumpul-kumpul istirahat, aku bercerita mengenai kejadian semalam.

"Eh, semalam aku diweruhi (dilihati, red.) orang pake baju putih. Aku diem aja enggak bicara apa-apa," ungkap Jaswadi.

"Weh, ternyata Pak Jas juga melihat tho?" tanyaku, "Kupikir cuma aku saja. Tadinya, aku mau bangunin yang lainnya. Tapi, aku takut. Jadi, diem aja tanpa gerak."

"Iyo, aku juga ngelihat," imbuh Wagiran.

"Hmm, harusnya pada bangun, terus ditanya, 'Heh, siapa kamu?!'" kata Sunar, kepala pelaksana proyek itu. Diiringi suara tawa yang lain.

Aku kemudian baru mengerti kalau di sekitaran proyek renovasi jembatan itu, banyak sekali "hal-hal yang tak kasat mata". Beberapa hari berikutnya, sebelum aku memutuskan berhenti karena tak kuat diganggu setiap malam, penampakan demi penampakan terus terjadi. Yang berani tetap meneruskan kerja di proyek renovasi jembatan itu.[]

Penulis: @CerpenHoror

0 komentar