Wednesday, October 31, 2012

Cerpen Horor: Manusia Ulat Bulu [Part II]

Cerpen Horor: Manusia Ulat Bulu [Part II]
Sampai menjelang tengah hari dan ujung obornya tinggal seperempatnya karena dimakan api Ayah telah membunuh banyak sekali ulat bulu. Mungkin ribuan, atau lebih, ia sendiri tak sanggup menghitungnya, sejauh mata memandang terlihat tumpukan gosong tubuh-tubuh kecil di bawah batang karet. Bau hangus terbakar yang menyengat memenuhi udara. Ayah tertawa puas.

“Hahahaha…! Biarkan tempat ini menjadi contoh bagi kawanan kalian yang lain agar jangan-jangan macam-macam lagi dengan kebunku!” lengkingnya, suaranya bergema dan berputar-putar di tengah sunyi yang memenuhi tempat itu. Sesekali nyanyian jangkrik yang menjerit panjang di salah satu penjuru seolah menerjemahkan ancamannya itu ke semua binatang pengganggu lainnya dan mengulanginya dalam nada pilu. “Kalian dengar itu, hah!”

Sebenarnya masih banyak lagi ulat bulu yang bertengger di dahan batang yang lebih tinggi. Hanya saja jangkauan obor Ayah tak sampai untuk meraih dan memanggang mereka hidup-hidup. Ia berjanji besok akan membasmi mereka lagi dengan racun serangga hingga tandas.

“Dasar manusia egois!” umpat sebuah suara, samar.

“Siapa itu?”

“Kalian memang selalu seenaknya!”

Ayah menajamkan telinganya. Ia yakin kini ia tak salah dengar lagi. Ada seseorang—atau sesuatu yang berbicara dengannya.

“Kami bermigrasi dan berkelana untuk mendapatkan makanan karena kami harus bersaing dengan rakyat kami yang semakin banyak. Kalianlah yang telah menyebabkan ketidakseimbangan ini. Kalianlah yang membuka lahan dan menebang hutan seenaknya. Yah, sebelumnya kami harus berterima kasih karena kalianlah yang telah menyebabkan predator pemangsa kami, burung-burung dan sebagainya, jadi berkurang jumlahnya. Lantas sekarang, setelah jumlah kami bertambah banyak karena kami sendiri tak bisa menekan laju pertumbuhan kami, kalian malah ingin memusnahkan kami? Kalian manusia egois!”

“Si-siapa itu?” Ayah membentak marah dengan mata awas memandang ke segala penjuru kebun. “Tunjukkan dirimu!” obor di tanganya diulurkan ke depan sebagai perlindungan, kalau-kalau seuatu yang berbicara padanya itu tiba-tiba menyerang.

“Hahaha… Wajahmu terlihat pucat. Apa sekarang kamu ketakutan karena saya mengatakan yang sebenarnya, Manusia? Kalianlah kaum yang menimbulkan kerusakan di bumi ini!”

“Aha! Apa itu kamu yang berbicara?” Tiba-tiba mata Ayah tertuju pada seekor ulat bulu yang hinggap di sebuah pohon karet di depannya. Ulat ini berbeda dari ulat-ulat sebelumnya yang telah dibantainya. Tubuhnya dua kali lebih besar dengan corak warna merah-hitam mencolok dan bulu tebal menjijikkan. Mungkin ia adalah ratunya atau apapun-yang-mempunyai-posisi-penting di antara ulat-ulat bulu lainnya. Kalau diibaratkan manusia, ia seperti seorang nyonya gemuk berpipi gembil dalam balutan mantel bulu setebal dua lapis. Ia berjalan sangat pelan menuruni batang karet sambil mengunyah sehelai daun karet yang dibawa dua kaki depannya. Daun itu tampak bolong-bolong di beberapa bagian, hanya menyisakan kerangkanya dan tinggal sepertiganya saja.

“Ya! Ka-kamu... Bagaimana mungkin ada ulat bulu yang bisa berbicara? Kamu siluman, hah?”

“Itu karena saya adalah ulat bulu yang paling ditetuakan di antara ulat-ulat bulu yang telah kamu bunuh dan yang tengah ketakutan di atas sana,” katanya, berhadapan sejajar dengan wajah Ayah. “Kalian tidak memberi kehidupan pada kami, atau makhluk lainnya, jangan pikir kalian bisa memusnahkan makhluk selain kalian tanpa menanggung akibatnya!”

“Cih!” Ayah tak terima diceramahi hama laknat itu. Begitu melihat ulat itu telah berada dalam jangkauannya, seketika ia langsung menghunuskan obornya ke tubuh gemuk si ulat. “Rasakan ini! Tahu apa kamu tentang manusia, ulat cerewet? Menjadi manusia tidak hanya membutuhkan makan, kami juga harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Dan kalian telah merusak kebun tempat kami mengais rezeki. Sekarang matilah! Kalau saya bisa membunuhmu, maka ulat-ulat bulu yang lain pasti tak akan berani macam-macam lagi di kebunku... Hahaha!”

Si ulat meronta. Bulu-bulunya terpanggang rata hingga hangus. Dan meski sebenarnya si ulat telah mati tapi Ayah terus saja menyodorkan lidah api itu hingga tubuh si ulat matang merata dan mengembung, dan menggembung, terus menggembung seperti roti di dalam oven. Ayah kaget luar biasa, ia tak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi. Sementara tubuh si ulat terus membengkak dan membulat hingga nyaris sebesar bola kasti—lalu… “Bopp!” seperti bunyi ban mobil yang gembos, tiba-tiba tubuh ulat itu meletus dan hancur berantakan. Sebagian isinya memerciki wajah Ayah. Daging panas, hijau, serta berlendir itu membuatnya jijik. Ia merintih dan meraung.

Meski sebelumnya seluruh tangan dan bagian belakang lehernya telah dipenuhi bentol-bentol besar serupa peta dunia terkena racun bulu-bulu ulat bulu yang berterbangan saat terbakar, tapi ia sama sekali tak merasakan apa-apa. Sebaliknya, ia hanya merasakan nafsu membunuh mengusainya untuk membantai ulat-ulat bulu itu hingga tuntas. Namun kini, setelah wajahnya terkena serpihan daging gatal itu barulah ia merasakan seluruh tubuhnya dirajam oleh miang yang menyiksa.


Penulis: Adhi Glory | Sihirkata | Pic 

0 komentar