Cerpen Horor: Kuburan | Cerpen Horor
Home » » Cerpen Horor: Kuburan

Cerpen Horor: Kuburan

Written By Admin Cerpen Horor on Wednesday, November 14, 2012 | 9:00 PM

Malam yang gerah. Sudah dua jam Trimo duduk di lincak depan rumahnya. Rumah di depan kuburan. Ia meman­dangi langit, tidak ada bulan dan bintang di sana. Nampak awan bergumpal‑gumpal menggantung.

Mungkin akan turun hujan, batinnya. Sepi dan senyap, tapi hawanya panas. Trimo membuang rokok kreteknya yang baru dihisap separo. Tidak ada kenikmatan merokok di malam yang gerah ini.

Kuburan. Trimo memandang gerbangnya. Sejak ia belum lahir kuburan itu sudah ada. Mbah buyutnya adalah juru kunci yang pertama. Lalu jabatan itu terus turun‑temurun jatuh pada anak cucunya. Tiba‑tiba ia sadar sudah empat puluh tahun ia jadi juru kunci di situ.

Kuburan. Credit Photo: IbnuAbbasKendari
Trimo berpikir. Apakah jabatan ini kelak juga akan diwariskan kepada salah seorang di antara anak‑anaknya. Tapi siapa yang mau. Ketiga orang anaknya itu masing‑masing punya cita‑cita yang tinggi. Mereka juga bersema‑ ngat sekali untuk meraih cita‑cita itu. Setiap pembagian rapor mereka bertiga selalu berhasil masuk dalam rangking tiga besar. Dan sekarang mereka bertiga sudah jadi sarjana dan mendapat pekerjaan yang layak.

Ia menghela napas panjang. Pantatnya sudah tidak kerasan lagi duduk di lincak itu. Ia bangkit dan tiba‑tiba terlintas dalam hatinya keinginan untuk jalan‑jalan di dalam kuburan itu. Lantas ia bergegas masuk ke rumah untuk mengambil senter.

Sudah jam satu malam ketika Trimo masuk ke kuburan itu. Ia berjalan di antara nisan‑nisan. Diarahkannya sorot lampu senternya untuk membaca nama‑nama yang tercantum di situ. Orang‑orang yang dulunya pernah ada dan meramaikan dunia ini.

Seandainya mereka masih hidup dan dikumpulkan di sebuah lapangan pasti suasananya ramai sekali. Tapi di kuburan ini mereka juga dikumpulkan sampai ribuan orang namun suasananya senyap. Jangankan berbicara, bernapaspun mereka sudah tak mampu. Berpikir seperti itu membuat Trimo tidak pernah takut berada di tengah‑tengah kuburan sekali­pun di malam hari.

Suatu ketika sorot lampu senternya terhenti di sebuah nama pada suatu batu nisan.

K‑I‑S‑U‑R‑O‑J‑O‑Y‑O‑M‑E‑N‑G‑G‑O‑L‑O, diejanya nama di sana dalam batin. Ki Suro… ah ya! Ia teringat kepada tokoh jawara di masa kakeknya masih hidup dulu itu. Konon Ki Suro adalah seorang jawara yang disegani. Ia memiliki kesaktian ilmu olah kanuragan. Sudah banyak penjahat yang berhasil dibasminya di masa itu. Bahkan tentara Belanda pun takut kepadanya, kabarnya ia kebal peluru.

Namun suatu hari ajal menjemputnya juga ketika habis umurnya. Ia yang tak pernah terkalahkan dalam setiap pertarungan, ternyata kini ilmunya itu tak dapat mencegah kematiannya. Padahal saat itu meski usianya sudah enam puluh tahunan tapi kondisi fisiknya masih kuat. Kekayaan­nya sangat banyak. Sawahnya berhektar‑hektar dan ternaknya ratusan ekor. Istrinya yang ke sepuluh, seorang dara berusia empat belas tahun, baru dinikahinya satu bulan. Dengan dukungan harta, kekuatan dan dua puluh orang anak laki‑lakinya, Ki Suro saat itu berambisi menjadi lurah setelah Ki Lurah lama dalam usianya yang sembilan puluh tahunan sering sakit‑sakitan.

Agaknya tetap kuasa Tuhanlah yang menentukan cita‑cita dan upaya manusia. Suatu hari Ki Suro merasa masuk angin dan pusing. Ia beristirahat di kamarnya, tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Ia wafat satu tahun sebelum Ki Lurah sendiri meninggal. Trimo menarik napas panjang setelah mengenang peris­tiwa itu sampai di situ. Ia terpaku menatap nama di nisan itu. Ki Suro mati dan seluruh harta, kekuasaan serta sanak kadangnya tak ada yang bisa dibawa untuk menemani­nya. Bahkan setelah itu yang terjadi adalah ramainya sengketa di antara anak‑anaknya untuk memperebutkan wari­sannya. Puluhan tahun Ki Suro bekerja keras mengumpulkan dan mengelola hartanya. Ia habiskan umurnya dengan bekerja keras untuk itu. Selama hayatnya baru sedikit yang dinik­matinya. Setelah matinya harta itu berserakan diperebutkan ahli warisnya.

Kemudian Trimo melanjutkan langkahnya memeriksa nama‑nama lain di kuburan itu. Ada keasyikan tersendiri mengenang kisah hidup orang‑orang yang pernah dikenalnya atau pernah ia dengar ceritanya. Beberapa kali pandangan­nya terpaku pada nisan‑nisan itu. Ada seorang pejabat yang mati karena serangan jantung. Padahal baru enam bulan ia naik pangkat. Kabar burung yang didengarnya di tengah suasana pemakamannya menyebutkan laki‑laki separo baya itu sering menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya untuk kepentingan pribadi. Di antara pelayat ada yang sampai berbisik, “Coba bayangkan, berapa lagi uang negara ini yang diraupnya kalau ia tidak keburu mati.”

Pada nisan yang lain ia teringat pada peristiwa gantung diri orang yang terkubur di bawahnya. Laki‑laki berusia tiga puluh tahun itu putus asa karena kuliahnya tidak selesai‑selesai juga. Ada beberapa dosen yang disa­lahkannya dan dianggap menghambat kelulusannya. Pihak universitas sudah mengirim surat peringatan akan men‑DO‑nya kalau tidak bisa menyelesaikan kuliah sampai akhir semester yang sudah ditentukan. Padahal ayahnya sedang sakit parah sehingga tidak ada lagi wesel yang dikirim untuknya. Sementara ibunya harus berhutang di sana‑sini untuk menutupi ongkos perawatan ayahnya. Ia semakin kela­bakan lagi ketika pacarnya hamil dan ia dituntut oleh orang tua si gadis untuk bertanggung jawab. Otaknya tak mampu lagi berpikir jernih. Ia nekat mengambil setagen ibu kostnya dari jemuran dan gantung diri di siang hari bolong pada pohon mangga.

Sebelum mati ia berpikir kematian akan menyelesaikan segala masalahnya. Tapi kematiannya justru membuat masalah bagi orang banyak. Ayah dan ibunya shock dan meninggal seketika mendengar berita itu. Bekas ibu kostnya terpaksa kehilangan piutang tunggakan uang kost selama enam bulan, selain harus gigit jari juga karena tempat kostnya jadi sepi akibat peristiwa bunuh diri itu. Dan orang‑orang kampung juga harus repot menurunkan jasadnya dari pohon mangga. Sedangkan pacarnya jadi histeris dan mengalami keguguran.

Tanpa disadari Trimo geleng‑geleng kepala mengingat­nya. Lalu ia meneruskan langkahnya dan terhenti pada sebuah nisan lagi. Ia mengeja nama yang tertera di sana, S‑Y‑L‑V‑I‑A‑P‑A‑R‑A‑M‑I‑T‑A. Ah, gadis cantik itu baru sebulan dimakamkan. Ia masih es em a tapi sudah menjadi fotomodel terkenal. Bahkan ketika masih kelas dua es em pe dia sudah jadi juara cover girl. Meskipun sibuk di dunia modelling tapi gadis yang selalu tampil lincah dan riang ini tak pernah turun dari rangking pertama di kelasnya. Sayang sekali kenapa usianya begitu singkat.

Kembali Trimo meneruskan langkahnya setelah sejenak tepekur di situ. Ada beberapa nama lagi yang dikenalnya. Ada orang yang baik dan ada juga yang jahat. Menjelang fajar ketika Trimo tersentak oleh suara adzan subuh. Keasyikan mengenang orang‑orang yang dimakamkan di kuburan itu membuatnya lupa waktu. Bahkan kegerahan malam itu pun tak dirasakannya lagi. Suara adzan mengumandang menembus langit. Trimo memandang ke atas. Awan hitam masih bergum­pal‑gumpal menutupi cahaya bulan dan bintang.

Kuburan itu, tempat tersimpannya jasad‑jasad yang rusak. Banyak cerita yang ikut tersimpan di sana. Trimo melangkah keluar meninggalkannya. Ia pulang dan mengambil air wudlu. Usai sholat subuh ia tetap tepekur di masjid sampai matahari naik. Ia merenung, suatu saat nanti ia sendiri juga akan dikubur. Entah kapan dan di mana…[]

Penulis: Syafruddin Hasani | Teks

0 komentar:

Post a Comment